Harmoni.

HARMONI POLIGAMI

*Jangan dibaca, ntar nyesal*

Saya menikah tahun 2000 ketika itu umur saya 31 dan istri saya berumur 23 tahun.

Di tahun kelima, istri mendorong saya untuk menikah lagi, padahal sebenarnya saya sudah merasa cukup dengan 1 istri.

Tapi istri terus memaksa… dan malah mengenalkan dan melamarkan akhwat umur 21 tahun, status janda anak 1, ditinggal mati suami.., akhirnya kami menikah.

Kehidupan kami berjalan harmonis selama empat tahun. Lalu, kedua istri saya sepertinya berkompromi , memaksa saya untuk mencari istri untuk yang ketiga.

Saya bilang, “Sudah, aku beristrikan kalian berdua saja, aku merasa belum bisa adil, aku takut jika hal ini memberatkan hisabku kelak……, sudah cukup…”

Jawab mereka, “Kami ridho kok. Kami merasa Uda sudah adil. Kami carikan madu lagi yaaa, Da.”

Mereka semakin merajuk dan memaksa sambil memberikan informasi ada janda umur 23 tahun tanpa anak..

Alhamdulillah… saya pun menikah untuk yang ketiga.

Di tahun kesembilan kehidupan poligami ini.., istri-istriku dan anak-anak kami semakin akrab. Alhamdulillah… tidak ada masalah di antara mereka. Setiap hari selepas shalat maghrib, mereka semua saya kumpulkan kegiatan ta’lim.., tausiyah keluarga, belajar Al-Qur’an dan membangun komunikasi.

Suatu hari, aku dikagetkan oleh unjukrasa mereka. Ketiga istri dan anak – anakku sepakat menuntutku untuk menikah lagi.

Mencari isteri yang keempat!!!
Masya Allah.
Saya bingung ya, Rabb. Saya benar-benar takut ya Allah…

Akhirnya, di tengah kebingunganku…. sayup-sayup terdengar suara adzan subuh. aku terbangun.

Astaghfirullah… ternyata cuma mimpi. Duhhhhh, sayang banget yaaa…

🏃🏿🏃🏿☕ ayo ngopi

Siapa nama kamu.

*TENTANG KEADILAN*

Seorang pensyarah kuliah undang2 bertanya pada salah seorang mahasiswa:
_“Siapa nama kamu?”_

Mahasiswa itu menyebutkan namanya,
_”Imran, tuan.”_

Tiba-tiba saja pensyarah mengusirnya tanpa sebab.

Mahasiswa itu berusaha membela diri.
Tapi pensyarah malah membentaknya.

Akhirnya dia keluar dengan perasaan dizalimi.

Mahasiswa2 yang lain hanya diam saja.

Setelah itu pensyarah memulakan kuliah.
Dia bertanya kepada para mahasiswa,
_*“Untuk apa undang-undang dibuat?”*_

Salah seorang mahasiswi menjawab,
_*“Untuk mengawal perilaku manusia.”*_

Mahasiswa lain menjawab,
_*“Untuk diterapkan.”*_

Yang lain menjawab,
_*“Agar yang kuat tidak menzalimi yang lemah.”*_

Pensyarah berkata,
_*“Benar. Tapi semua itu tidak cukup.”*_

Tiba-tiba salah seorang mahasiswi mengangkatkan tangan dan berkata,
_*“Untuk mewujudkan keadilan.”*_

Pensyarah berkata,
_*“Benar.* Itulah jawabannya. Agar tercipta keadilan. Tapi pertanyaannya, *Apa gunanya keadilan?”*_

Seorang mahasiswa menjawab,
_*“Agar hak semua orang terjaga dan tidak ada yang terzalimi.”*_

Pensyarah bertanya,
_“Sekarang jawab dengan jujur dan tak perlu takut._
_Apakah saya telah berlaku zalim pada teman kalian ketika saya mengusirnya dari kelas?”_

Mereka sepakat menjawab, _“Iya..!”_

Pensyarah bertanya dengan nada tinggi,
_*“Lalu kenapa kalian diam saja dan tidak memberikan pembelaan?!*_
_*Apa guna undang-undang dan hukum kalau kita tidak memiliki keberanian untuk menerapkannya?!*_
_*Ketika kalian diam saja disaat seseorang dizalimi, dan kalian tidak berusaha membela yang benar maka kalian akan kehilangan kemanusiaan kalian.*_
_*Dan, kemanusiaan tidak bisa ditawar-tawar..!”*_

Kemudian pensyarah memanggil mahasiswa yang diusirnya tadi lalu meminta maaf padanya di depan seluruh mahasiswa.

Lalu ia berkata,
_“Ini saja pelajaran untuk hari ini._
_Kalian mesti berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari selama kalian hidup._

*Berapa banyak orang yg diam melihat kezaliman, ketidak adilan bahkan berkawan akrab dg pelaku kezaliman hanya kerana ingin mendapatkan keselesaan*

_*Pelajaran dari sebuah sikap dan perbuatan jauh lebih berarti daripada pelajaran dari sebuah nasehat.*_

_*Semoga bermanafaat..👍